MANFAAT MALU

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

ASSALAMU’ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH

Segala puji bagi Allah, Dzat yang Maha Rahman dan Rahim, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sholawat serta salam kita haturkan kepada Rosulullah Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, para shahabat dan orang-orang yang setia mengikuti sunnah beliau hingga akhir hayatnya.

Wa ba’du

Rasulullah SAW bersabda, ”Hendaklah kamu merasa malu kepada Allah SWT
dengan malu yang sebenarnya.” Para sahabat menjawab, ”Ya Nabiyullah,
alhamdulillah kami sudah merasa malu.” Kata Nabi, ”Tidak segampang itu. Yang dimaksud dengan malu kepada Allah SWT dengan sebenarnya malu adalah kemampuan kalian memelihara kepala beserta segala isinya, memelihara perut dan apa yang terkandung di dalamnya, banyak-banyak mengingat mati dan cobaan (Allah SWT). Siapa yang menginginkan akhirat hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Siapa yang telah mengamalkan demikian, maka demikianlah malu yang sebenarnya kepada Allah SWT.” (HR Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud).

Hadis tersebut menggambarkan betapa besarnya manfaat rasa malu dalam
mengontrol kehidupan seorang Muslim. Mulai dari cara berpikir dan apa yang
dipikirkan, cara menjaga perut dari makanan haram, sampai sikap hidup yang
senantiasa ingat pada kematian, bisa dimasukkan sebagai refleksi dari rasa malu kepada Allah SWT.

Semakin tinggi rasa malu seseorang kepada Allah SWT, semakin terjaga ia dari
perbuatan salah, semakin terpelihara ia dari makanan haram, dan semakin ingat ia akan kefanaan dunia yang melenakan. Sebaliknya, semakin hilang rasa malu pada seseorang, semakin tak terkontrol perilakunya, semakin terbiasa dengan makanan haram, dan semakin lupa dengan akhirat.

Nabi Muhammad SAW pernah menjelaskan bahwa memelihara rasa malu kepada Allah SWT akan mendatangkan kebaikan, baik bagi orang yang memeliharanya maupun bagi orang lain. Sabda beliau, ”Malu tak akan datang kecuali dengan kebaikan.” (HR Muslim dari Imran ibn Husein). Dengan kata lain, rasa malu akan mendidik seorang Muslim untuk menjaga perilaku, sikap, maupun ucapan. Menurut Buya Mawardi Muhammad dalam Kitab Jawahir Alhadits, rasa malu merupakan sesuatu yang mencegah seorang Mukmin dari perbuatan dosa lantaran takut kepada Allah SWT. Ada ataupun tidak ada orang lain yang melihat, ia tetap berpegang pada keyakinan bahwa Allah SWT senantiasa mengawasinya. Dia akan senantiasa menyadari bahwa tak ada satu ruang pun yang luput dari pengamatan Allah SWT.

Sedangkan kalau malu hanya berpatokan pada pandangan manusia, maka hal itu akan melahirkan manusia-manusia yang bersikap munafik. Di depan banyak orang, dia akan bersikap baik, santun, ramah, dan sebagainya. Begitu tidak terlihat banyak manusia, dia akan berkhianat, korupsi, menyengsarakan orang lain, serta melakukan kejahatan lainnya.

Rasa malu merupakan identitas bagi setiap Muslim. Rasulullah SAW bersabda, ”Bagi setiap agama ada akhlak. Akhlak agama Islam adalah malu.” (HR Malik dari Zaid ibn Thalhah). Artinya, rasa malu merupakan bagian yang tak boleh terpisahkan dari diri setiap Muslim.

Begitu hilang rasa malunya, maka hilang pula kepribadiannya sebagai seorang
Muslim. Ia akan terbiasa berbuat dosa, baik terang-terangan maupun  tersembunyi. Makanya, sangat wajar jika Rasulullah SAW murka terhadap orang yang tak punya rasa malu.

Quoted from : Busman Edyar

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: